Konsep Perencanaan Keuangan

mankeuthumb

Profesional muda, terkenal, bergaji tinggi, tetapi bangkrut. Jargon itu sering disampaikan Suze Orman, perencana keuangan terkenal dari Amerika, dalam siaran rutin “Money Matters” di stasiun televisi CNBC. Mereka yang bergaji keuangannya sehingga dapat hidup sejahtera. Seperti halnya Michael Jackson, seorang selebritis terkenal dunia bergelimang pendapatan yang luar biasa tingginya, tetapi pada akhir hayatnya meninggalkan berbagai hutang. Ada banyak sekali kasus disekeliling kita (mungkin termasuk diri kita sendiri) yang masuk dalam kategori itu. Banyaknya permasalahan yang menyangkut pengelolaan situasi keuangan pribadi dan keluarga disebabkan oleh tidak adanya perencanaan keuangan untuk menghadapi masa depan yang penuh ketidakpastian.

Di Amerika Serikat profesi Perencana Keuangan dalam tiga tahun terakhir merupakan profesi yang paling diminati (berdasarkan Job Almanac). Seperti halnya dengan tren – tren lainnya, maka kebutuhan akan profesi ini cepat atau lambat akan merambah ke Indonesia. Profesi Perencana Keuangan adalah suatu profesi yang membantu nasabah untuk merencanakan pencapaian tujuan – tujuan keuangan pribadi melalui langkah – langkah yang sistematis termasuk juga didalamnya menentukan pilihan atas berbagai jenis investasi yang sesuai. Buku ini bermaksud untuk memberikan kerangka pikir dan langkah – langkah yang perlu dilakukan untuk membuat perencanaan keuangan bagi diri sendiri maupun keluarga kita seperti halnya yang dilakukan oleh perencana keuangan profesional.

Ada beberapa motif yang mengharuskan kita membuat perencanaan kedepan biasanya dilandasi oleh ancaman – ancaman dari lingkungan ataupun kekhawatiran – kekhawatiran tertentu. Sebagian orang takut ketinggian, sebagian lagi takut bila berada di keramaian, sebagian lagi takut bila kesepian dll. Dalam dunia perencanaan keuangan pribadi ada empat kekhawatiran yang dapat mempengaruhi kita dalam menjalani seluruh fase kehidupan sejak lahir hingga meninggal.

Hidup terlalu lama

Adanya kemajuan dalam dunia kedokteran dan obat – obatan, menyebabkan meningkatnya harapan hidup. Di Amerika Serikat harapan hidup rata – rata saat ini untuk laki – laki dan wanita adalah 75 tahun dan 80 tahun dan harapan hidup ini akan terus meningkat di masa depan. Harapan hidup yang panjang ini menimbulkan konsekuensi panjangnya masa kehidupan pensiun. Bagaimana kita membiayai kehidupan semasa pensiun yang semakin panjang disaat produktivitas tak lagi menunjang kita untuk mendapatkan penghasilan? Hidup terlalu lama bisa menjadi rahmat sekaligus bencana bila kehidupan tidak ditunjang oleh kondisi ekonomi yang baik.

Meninggal terlalu awal

Meninggal pada saat masih mempunyai tanggungan memberikan risiko bahwa tanggungan kita, isteri dan anak – anak yang masih kecil, tidak dapat membiayai kelanjutan kehidupannya. Sehingga dirasa sangat perlu mengelola risiko dalam menghadapi ketidakpatian masa depan. Produk – produk asuransi, meski tidak populer di Indonesia, cocok digunakan untuk menanggulangi risiko – risiko tersebut.

Menjadi cacat

Adanya, kekhawatiran bila sewaktu – waktu menjadi cacat. Hidup penuh dengan kejadian yang tak dapat diduga sebelumnya. Kecelakaan, timbulnya penyakit kritis, wabah – wabah penyakit yang dapat menyebabkan cacat sehingga kita tak lagi mampu bekerja dan memerlukan dukungan serta menjadi beban orang lain untuk melanjutkan kehidupan.

Banyaknya kebutuhan atau impian – impian masa depan

Semakin modern kehidupan membawa implikasi banyaknya kebutuhan yang semakin mahal dan mungkin tak terjangkau tanpa melakukan perencanaan keuangan yang baik. Berbagai contoh kebutuhan diantaranya : pendidikan anak, alat transportasi, rumah, rekreasi, dana pensiun, dan kebutuhan – kebutuhan lainnya.

Hal – hal tersebut di atas mendasari kebutuhan terhadap perencanaan keuangan yang baik dan diterapkan seawal mungkin. If you fail to plan you plan to fail. Jika kita gagal merencanakan maka kita hanya merencanakan kegagalan. Orang Indonesia seringkali tidak bisa dan tidak biasa membuat rencana. Dalam percakapan sehari – hari sering kita dengar istilah : bagaimana nanti saja, atau saya ingin mengalir seperti air saja. Ini sama artinya dengan tidak ingin merencanakan sesuatu. Selain itu, kondisi pasar uang, pasar modal, dan berbagai jenis produk investasi yang membanjiri pasar membuat kita semakin bingung. Mana produk yang cocok, apa risikonya, dan bagaimana menentukan pilihan yang paling tepat.

Menurut salah satu perencana keuangan dari Amerika, Sid Mittra, perencanaan keuangan adalah suatu proses yang terintegrasi dalam rangka mencapai tujuan hidup seseorang melalui pengelolaan keuangan yang baik. Namun di sisi lain seringkali kita terlambat atau kurang peka untuk mengenali apa sebenarnya tujuan hidup kita yang utama di dalam memenuhi kebutuhan keluarga pada masa – masa mendatang? Apabila kita analogikan seperti seseorang wisatawan yang dia tidak tahu akan pergi kemana, dan dia hanya mengikuti orang lain saja, sehingga uang yang dimiliki habis percuma tanpa dia mendapatkan kepuasan. Namun sebaliknya apabila dia memiliki rencana sebelumnya, maka tidak akan sia – sia perjalanan wisatanya.

Sama halnya seperti diri kita pribadi, kita harus tahu apa tujuan kehidupan kita, sekaligus apa tujuan keuangan kita. Kita bisa memulai tujuan tersebut dengan membaginya menjadi 3 tahap yaitu tujuan jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang. Bila kita sudah masuk pada tujuan keuangan kita, maka salah satu aspek yang perlu diperhatikan adalah pentingnya membuat sebuah daftar yang berisi tentang kondisi keuangan kita, maka salah satu aspek yang perlu diperhatikan adalah pentingnya membuat sebuah daftar yang berisi tentang kondisi keuangan kita, apakah itu berupa tabungan, deposito, atau aset berupa rumah, tanah, mobil, perhiasan dan lain sebagainya. Baru sesudah itu kita mulai menghitung berapa pengeluaran kita sehari – hari termasuk pembayaran hutang seperti kartu kredit, KPR atau pinjaman lainnya. Dari situ kita bisa melihat apakah kita termasuk orang yang suka menabung atau justru kita adalah tipe orang besar pasak daripada tiang. Setelah itu kita dapat hasilnya barulah kita bisa membuat strategi untuk memenuhi tujuan keuangan yang menjadi bagian dari tujuan hidup kita.

Berbagai aspek penentuan tujuan keuangan yang harus dibahas dalam proses perencanaan keuangan sangat tergantung ada dalam fase kehidupan mana kita sekarang berada.

Gambar 1. Siklus Hidup dan Perencanaan Keuangan

Gambar 1. Siklus Hidup dan Perencanaan Keuangan

Pada dasarnya sepanjang kita bekerja dan mendapatkan penghasilan maka proses creating akan berubah menjadi proses accumulating. Setelah asset dan berbagai bentuk tabungan kita telah mencapai jumlah yang relatif besar, maka kita memasuki proses preserving. Dalam proses ini yang penting menjaga nilainya untuk tidak turun atau hilang sekonyong – konyong. Setelah itu pada masa tua, kita sudah harus memikirkan proses distributing, yaitu proses meneruskan kekayaan kita kepada pihak – pihak lain yang lebih memerlukan diantaranya adalah ahli waris dan pihak – pihak yang dianggap layak untuk menerima bantuan/sumbangan kita.

By: Subiakto


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>